
Di sisi lobi Balai Litbang Agama (BLA) Semarang, terdapat sebuah sudut kecil yang kerap luput dari perhatian sekilas. Hanya rak sederhana berisi buku, majalah, dan laporan penelitian yang tersusun rapi. Namun, siapa sangka, pojok baca itu justru menjadi tempat yang cukup diminati oleh para pegawai maupun mahasiswa dan siswa yang sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Suasana berbeda tampak setiap kali jeda kerja atau usai rapat. Beberapa pegawai terlihat menyempatkan diri membuka buku, sementara mahasiswa magang asyik menyelami halaman demi halaman.
“Kalau lagi senggang, saya lebih suka baca di sini daripada main ponsel,” ujar Sukma Mahanny, mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Selasa (16/9/2025).
Rak buku ini memang tidak luas, tetapi koleksinya cukup beragam. Ada literatur agama, pendidikan, hingga buku-buku populer yang ringan untuk dibaca di sela aktivitas. Itulah yang membuat pojok baca ini terasa hidup, menjadi ruang rehat intelektual di tengah rutinitas.
Tak jarang, pemandangan beberapa pelajar duduk tenang sambil membaca menjadi pengingat bahwa aktivitas membaca tidak hanya milik ruang kelas.
“Kadang kalau lagi nunggu bimbingan, ya mampir ke sini. Lumayan, bisa menambah wawasan,” kata M. Noval Zulfikar, siswa PPL dari SMK Palapa Semarang.
Kepala Subbagian Tata Usaha BLA Semarang, Nanang Slamet Murdiyat, menuturkan bahwa pojok baca diharapkan menjadi ruang inklusif bagi siapa saja yang ingin menambah pengetahuan.
“Kami ingin literasi tidak sekadar slogan, tetapi benar-benar hadir di tengah aktivitas sehari-hari. Pojok baca ini salah satu wujud kecilnya,” ujarnya.
Bagi Balai Litbang Agama Semarang, pojok baca mungkin hanyalah fasilitas sederhana. Namun, kehadirannya memberi nilai lebih dengan membangun budaya membaca di lingkungan kerja.
“Pojok baca menjadi ruang interaksi antarpegawai, siswa, dan mahasiswa, sekaligus pengingat bahwa membaca adalah bagian penting dari inspirasi,” pungkasnya.