
Balai Litbang Agama Semarang tahun 2016 melakukan penelitian terhadap sejumlah aliran Penghayat Kepercayaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketiga wilayah ini dipilih karena secara kultural merepresentasikan kebudayaan Jawa yang sarat dengan tradisi spiritual dan simbolik.
Secara antropologis, masyarakat Jawa dikenal sebagai penghayat kepercayaan. Mereka memiliki kegemaran terhadap seni spiritual sekaligus seni hidup yang estetis. Dalam praktiknya, terdapat beberapa tipe penghayatan budaya spiritual orang Jawa. Pertama, penghayat “tulen”, yakni mereka yang sikap dan perilakunya sepenuhnya dilandasi spiritualitas kejawen. Kedua, penghayat yang sekaligus memeluk agama resmi, namun sering mengalami keraguan, menjalankan agama dengan “bumbu” spiritualitas, dan memadukannya dengan adat istiadat setempat.
Prosiding ini merupakan hasil penelitian Tim Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Semarang. Di dalamnya disajikan tujuh tulisan tentang Penghayat Kepercayaan: satu tulisan pengantar dari narasumber, empat kajian tentang aliran penghayat di Yogyakarta, satu di Jawa Timur, dan satu di Jawa Tengah. Melalui hasil riset tersebut, eksistensi dan ajaran Penghayat Kepercayaan dipaparkan secara komprehensif sebagai berikut.
Tulisan Suwardi Endraswara membahas eksistensi ungkapan “rahayu” sebagai salam persaudaraan di kalangan penghayat. Ungkapan ini ditujukan kepada siapa saja yang memiliki ruh dan energi pemantik. Kata rahayu bermakna doa dan harapan keselamatan. Konsep rahayu berarti selamat, sementara rahayuning dhiri mengandung arti keselamatan diri, baik lahir maupun batin.
Samidi Khalim meneliti Padepokan Agung Bayu Suci di Lemahbang, Kasihan, Bantul. Padepokan ini bukan agama, melainkan Penghayat Kepercayaan yang memiliki banyak pengikut, tetapi tidak bergabung dengan Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) yang memiliki payung hukum.
Didirikan sejak 1987 oleh Mbah Hadi Suwanto, padepokan ini memuat konsep tentang alam gaib dan alam nyata, kepercayaan kepada Tuhan, manusia, dan alam, serta nilai-nilai budi luhur. Hubungan batin antara seluruh unsur semesta diwujudkan melalui meditasi di Pantai Selatan dan praktik olah rasa dalam kehidupan sehari-hari. Meditasi dipahami sebagai sarana menghubungkan spiritual manusia dengan ruh alam semesta dan Tuhan, dengan tujuan mendatangkan hajat, perlindungan, dan solusi atas persoalan duniawi.
Roch. Aris Hidayat mengkaji sejarah, ajaran, dan hubungan sosial Paguyuban Sumarah. Aliran ini menekankan kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan untuk mengejar kesaktian. Paguyuban ini bermula dari wahyu yang diterima Sukinohartono pada 1935.
Ajarannya meliputi tiga martabat: Tekad, Iman, dan Sumarah. Praktik spiritualnya diwujudkan dalam meditasi Sumarah melalui tiga bentuk sujud: Jinem, Junun, dan Suhul, yang masing-masing memiliki empat tingkatan. Inti ajarannya adalah berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan sebagai jalan memperoleh ridha dan bimbingan-Nya.
Umi Masfiah meneliti Paguyuban Tulis Tanpo Papan Kasunyatan Jati Singgangsono (TTPKJS) di Desa Seling, Kulon Progo. Ajarannya berasal dari Kaki Tunggal Jati Jaya Amongraga dan diteruskan secara turun-temurun. Ajaran disampaikan secara lisan dan tulisan, termasuk tata cara pengeningan. Hingga kini, paguyuban ini masih eksis dengan sekitar 82 anggota.
Subkhan Ridlo mengkaji Sumarah Purbo berdasarkan dokumen tertulis dan wawancara. Ajaran ini memandang Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan dengan menyatu kepada Tuhan. Seluruh alam semesta dipahami berada dalam ketergantungan pada kekuasaan Ilahi.
Moch. Lukluil Maknun meneliti Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo (PAMU) di Blitar. Didirikan RM Djojopoernomo, PAMU bersumber pada AD/ART, suluk macapat, dan Kitab Adamakna. PAMU bukan agama, melainkan kawruh pranataning kamanungsan yang bertujuan memahami asal-usul manusia agar hidup sesuai kehendak Tuhan.
Nur Laili Noviani mengkaji Paguyuban Esa Tunggal Sejati di Salatiga. Ajarannya tertuang dalam Kitab Pagelaran Hidup karya Sri Mulyono Hartono. Tuhan disebut Sang Daya Hidup dan Sang Sejati. Tujuan tertinggi manusia adalah bermanunggal dengan Tuhan, atau bersejati.
Hasil penelitian ini, menunjukan kekayaan religiusitas dan spiritualitas masyarakat Jawa. Penghayat Kepercayaan bukan sekadar fenomena keagamaan, tetapi juga cerminan budaya dan cara hidup. Diharapkan, riset ini dapat memperluas pemahaman publik sekaligus menjadi rujukan penting bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola keragaman keyakinan di Indonesia.