
Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Suasana di Perpustakaan Balai Litbang Agama (BLA) Semarang siang itu tampak berbeda dari biasanya. Sekitar 30 pegawai duduk berjejer menghadap layar televisi. Tidak ada tumpukan berkas, tidak pula presentasi panjang yang lazim mengisi ruang pertemuan. Yang terdengar justru sesekali tawa kecil dan bisik-bisik penasaran dari para peserta yang tengah menikmati sebuah film pendek berjudul Snack Attack.
Di ruang yang biasanya identik dengan buku dan aktivitas membaca itu, para pegawai larut dalam sebuah cerita sederhana yang menyimpan pesan mendalam. Film berdurasi beberapa menit tersebut menjadi bagian dari program NGASO (NGAsah Otak), sebuah inovasi yang digagas Perpustakaan BLA Semarang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang santai, kreatif, sekaligus reflektif.
Melalui layar televisi, penonton diajak mengikuti kisah seorang perempuan lanjut usia yang sedang menunggu kereta di stasiun. Di sela waktu menunggu, ia membeli sebungkus biskuit dan duduk di ruang tunggu. Tak lama kemudian, seorang remaja duduk di kursi sebelahnya.
Perlahan, raut wajah perempuan itu berubah. Ia merasa terganggu ketika melihat remaja tersebut mengambil dan memakan biskuit yang diyakininya sebagai miliknya. Setiap kali ia mengambil satu keping, sang remaja melakukan hal yang sama. Dalam benaknya, remaja itu adalah sosok yang tidak tahu sopan santun. Ketegangan kecil pun terbangun tanpa dialog, hanya melalui ekspresi dan prasangka.
Biskuit yang selama ini dianggap milik perempuan tersebut ternyata bukan miliknya sama sekali. Sebaliknya, remaja yang dicurigai dan dinilai tidak sopan justru dengan sabar berbagi biskuit miliknya hingga habis, tanpa mengucapkan satu kata pun.
Bagi Siti Sarifah, salah satu peserta, film pendek itu memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya.
“Setelah menonton film pendek ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Kegiatan ini tidak hanya memberikan penyegaran pikiran, tetapi juga menambah wawasan dan pengalaman baru,” ujarnya.
Menurut Sarifah, cerita sederhana dalam film tersebut mampu menyampaikan pesan yang kuat tentang pendidikan karakter. Penonton diajak memahami pentingnya menahan diri sebelum menghakimi orang lain. “Sering kali kita mengambil kesimpulan sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya,” tambahnya, Kamis (4/6/2026).
Pengelola Perpustakaan BLA Semarang, Siska Nur Apriyani, mengatakan bahwa NGASO dirancang sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Menurutnya, proses belajar tidak harus selalu berlangsung melalui buku-buku tebal atau paparan materi yang panjang.
“Belajar tidak selalu harus melalui buku tebal atau presentasi panjang. Film, cerita, maupun media kreatif lainnya dapat menjadi jendela untuk memahami nilai-nilai kehidupan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis,” tuturnya.

Bagi Siska, literasi pada era saat ini memiliki makna yang lebih luas. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan juga kemampuan memahami, menganalisis, dan merefleksikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar.
Karena itu, pendekatan-pendekatan kreatif seperti pemutaran film pendek menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan budaya literasi yang lebih dekat dengan keseharian pegawai.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Kepala Sub Bagian Tata Usaha BLA Semarang, Nanang Slamet Murdiyat. Ia menilai program NGASO merupakan inovasi yang mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih segar, menarik, dan bermakna di lingkungan kerja.
“Melalui pendekatan yang kreatif, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mendorong peserta untuk berpikir kritis, reflektif, serta memperkuat budaya belajar di lingkungan kerja,” tandasnya.