
Universitas Islam Negeri (UIN), sebagai wujud integrasi keilmuan, sejatinya telah memberikan konteks cita-cita ideal bagi pengembangan multiliterasi dalam proses produksi ilmu pengetahuan. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum yang menjadi karakter khas UIN menuntut adanya paradigma literasi yang tidak lagi tunggal, tetapi bersifat multidimensional, meliputi literasi teks, visual, digital, informasi, hingga literasi kritis. Namun demikian, cita-cita ideal tersebut pada praktiknya belum sepenuhnya terhubung dengan konteks subjek utama yang memanfaatkan layanan pendidikan UIN, yakni mahasiswa generasi milenial.
Infrastruktur literasi yang ada di berbagai kampus UIN belum sepenuhnya sejalan dengan paradigma integratif dan konsep multiliterasi yang seharusnya dikembangkan dalam konteks pendidikan abad ke-21. Layanan literasi di perpustakaan memang telah mengadaptasi perkembangan teknologi informasi, seperti penggunaan katalog daring, repository digital, dan akses jurnal elektronik. Akan tetapi, pemanfaatan teknologi tersebut belum maksimal dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mahasiswa milenial yang terbiasa dengan akses cepat, konten visual, serta interaktivitas tinggi.
Beberapa kampus bahkan belum mampu memenuhi harapan mahasiswa terhadap layanan perpustakaan yang ideal. Banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam memperoleh koleksi bacaan terbaru, baik yang relevan dengan perkuliahan maupun bacaan populer yang bersifat pengayaan. Kondisi ini tercermin dari rendahnya intensitas kunjungan mahasiswa ke perpustakaan. Sebagian besar mahasiswa (48,96%) hanya mengunjungi perpustakaan sekali dalam seminggu, bahkan terdapat 15,89% yang tidak pernah mengunjungi perpustakaan sama sekali dalam satu minggu. Hanya 4,87% mahasiswa yang setiap hari datang ke perpustakaan.
Menariknya, meskipun tingkat kunjungan relatif rendah, mayoritas mahasiswa tetap memandang perpustakaan sebagai ruang yang seharusnya nyaman untuk membaca. Mereka juga berharap perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang belajar kolektif untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, serta mengakses internet secara gratis. Artinya, perpustakaan dipandang bukan sekadar gudang buku, tetapi sebagai ruang sosial-intelektual.
Masalah lain yang cukup mendasar adalah minimnya koleksi bacaan yang menyenangkan sesuai selera generasi milenial, seperti novel, cerpen, biografi inspiratif, atau bacaan populer ilmiah. Koleksi yang tersedia lebih didominasi oleh buku-buku akademik yang cenderung kaku dan membosankan. Hal ini terlihat dari banyaknya pernyataan mahasiswa yang menyebutkan bahwa hambatan utama mereka dalam membaca adalah bacaan yang tidak menarik dan sulit menemukan bacaan yang menyenangkan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perpustakaan di banyak kampus UIN masih sebatas menjadi sarana pemenuhan literasi bermotivasi ekstrinsik, yakni membaca karena tuntutan tugas akademik. Perpustakaan belum mampu menumbuhkan praktik literasi yang didorong oleh motivasi intrinsik, yaitu membaca karena kesadaran dan minat pribadi. Fakta bahwa tingkat kunjungan dan peminjaman buku meningkat tajam saat musim tugas atau menjelang ujian semakin menegaskan pola literasi yang bersifat instrumental semata.
Lebih jauh, kampus UIN juga belum secara serius mengintegrasikan literasi informasi ke dalam kurikulum perguruan tinggi. Hingga kini, belum banyak ditemukan mata kuliah khusus tentang literasi informasi. Padahal, salah satu fungsi utama perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan keterampilan literasi informasi mahasiswa, yakni kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, mengkritisi, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Pembelajaran literasi informasi penting untuk membuka kesadaran mahasiswa bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat mencari referensi tugas, melainkan pusat pengetahuan sepanjang hayat.
Literasi informasi juga berperan penting dalam membekali mahasiswa menghadapi banjir informasi di era digital. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan memilah informasi yang valid, membedakan antara pengetahuan ilmiah dan hoaks, serta memahami etika penggunaan informasi. Tanpa keterampilan ini, mahasiswa berpotensi menjadi konsumen pasif informasi digital yang tidak kritis.
Aspek lain yang luput dari perhatian adalah akses ilmu pengetahuan melalui media online. Akses ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai langganan jurnal ilmiah internasional, tetapi juga penyediaan konten ilmu pengetahuan dalam berbagai bentuk modal literasi, seperti video edukatif, podcast ilmiah, infografik, dan platform pembelajaran interaktif. Model penyajian seperti ini lebih sesuai dengan karakter generasi milenial yang visual, cepat, dan terbiasa belajar melalui gawai.
Kehadiran media online telah mengubah otoritas dan metode transfer ilmu pengetahuan. Kampus dan lembaga penelitian tidak lagi menjadi satu-satunya sumber legitimasi pengetahuan. Jika UIN dan perpustakaannya tidak beradaptasi dengan pola produksi dan distribusi ilmu yang sesuai dengan tuntutan zaman, maka otoritas keilmuan kampus akan tersaingi, bahkan tertinggal oleh media digital yang mampu menyajikan pengetahuan secara lebih menarik dan mudah diakses.
Menariknya, di balik berbagai keterbatasan tersebut, mahasiswa sebenarnya memiliki sikap yang sangat positif terhadap literasi membaca. Sebanyak 98% mahasiswa menyatakan bahwa membaca itu penting, dan 90% meyakini bahwa membaca adalah keahlian yang harus dimiliki dalam hidup. Bahkan 98% mengaku senang ketika membaca, serta 80% tidak setuju bahwa membaca itu sulit dan membosankan. Data ini menunjukkan bahwa problem utama bukan terletak pada sikap mahasiswa, melainkan pada ekosistem literasi yang belum kondusif.
Hal serupa juga terjadi pada literasi menulis. Sekitar separuh mahasiswa mengaku senang menulis dan menyadari bahwa menulis merupakan sarana ekspresi ide. Namun mereka menghadapi kendala serius, terutama dalam menemukan ide, merangkai kalimat, serta mencari referensi yang relevan. Ini menandakan bahwa mahasiswa memiliki potensi literasi yang besar, tetapi tidak diimbangi dengan sistem pendukung yang memadai.
Dengan demikian, tantangan utama UIN bukan sekadar meningkatkan fasilitas fisik perpustakaan, tetapi membangun ekosistem multiliterasi yang utuh: integrasi kurikulum literasi informasi, pengembangan koleksi bacaan yang beragam dan menarik, transformasi perpustakaan menjadi ruang kreatif, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana produksi dan distribusi ilmu pengetahuan. Tanpa langkah strategis tersebut, visi integrasi keilmuan UIN berisiko menjadi slogan normatif yang tidak berdaya menjawab realitas generasi milenial.