PERPUSTAKAAN BLA SEMARANG

NPP 3374154A0000001

  • Beranda
  • Koleksi
    Katalog BukuE-BookE-Book AppE-Manuskrip WanantaraJurnal BLAS
  • Berita
  • Informasi
    Tentang KamiProfil PerpustakaanVisi MisiStruktur OrganisasiBantuanAlur Sirkulasi Peminjaman
  • Layanan
    Layanan KamiPendaftaran Member OnlinePermohonan Produk AkademikLayanan Survei
  • Pojok SAKIP
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa:
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Motif Aktivitas Keagamaan dan Pemanfaatan Media Digital


 

Penelitian ini mengkaji motif dan bentuk aktivitas keagamaan yang dilakukan di Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara Blitar yang dikaitkan dengan sosok Gus Samsudin. Penelitian berfokus pada pemanfaatan media digital sebagai sarana ekspresi keagamaan, penyebaran informasi, pembentukan citra, serta sebagai salah satu sumber keuntungan ekonomi. Perkembangan media sosial telah memberikan ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, aktivitas, dan identitas mereka kepada publik. Platform seperti YouTube, Facebook, Instagram, dan TikTok tidak hanya digunakan untuk hiburan dan komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media dakwah, pendidikan, spiritualitas, serta aktivitas ekonomi melalui jumlah penonton, pengikut, dan subscriber.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan dan spiritual yang dilakukan Gus Samsudin tidak dapat dilepaskan dari penggunaan media digital. Konten mengenai pengobatan, spiritualitas, dan keagamaan diproduksi serta disebarluaskan melalui sejumlah kanal media sosial yang dikelola bersama tim. Media digital kemudian menjadi ruang untuk membangun popularitas sekaligus memperoleh keuntungan material. Fenomena tersebut menunjukkan adanya pertautan antara agama, media digital, popularitas, dan kepentingan ekonomi dalam praktik keagamaan kontemporer.

Perkembangan teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam praktik keberagamaan. Kehadiran internet dan media sosial memungkinkan aktivitas keagamaan dilakukan dan disebarluaskan secara lebih cepat, luas, serta tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Jika sebelumnya kegiatan keagamaan banyak dilakukan melalui lembaga formal seperti masjid, pesantren, majelis taklim, dan lembaga pendidikan agama, saat ini aktivitas tersebut juga berkembang melalui ruang digital.

Media sosial menjadi salah satu sarana yang banyak digunakan masyarakat untuk mengekspresikan diri. Berbagai platform seperti YouTube, Facebook, Instagram, dan TikTok berkembang menjadi ruang komunikasi publik yang memungkinkan seseorang membangun identitas, popularitas, dan jaringan sosial. Media sosial juga telah mengalami perkembangan fungsi. Ia tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga sebagai media dakwah, pendidikan, penyebaran informasi, promosi, bahkan sebagai sumber pendapatan.

Kemudahan masyarakat dalam memperoleh informasi melalui media digital memberikan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan informasi keagamaan dengan cepat. Namun, di sisi lain, keterbukaan ruang digital juga memungkinkan munculnya berbagai informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun keagamaan.

Fenomena tersebut dapat dilihat dalam perkembangan aktivitas Gus Samsudin di Blitar. Sebelum menggunakan nama Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara, aktivitas tersebut berkembang melalui Padepokan Nur Dzat Sejati. Dalam perkembangannya, aktivitas spiritual, pengobatan, dan keagamaan yang dilakukan kemudian mendapatkan perhatian masyarakat dan berkembang pula melalui media digital.

Penelitian ini berusaha memahami bagaimana aktivitas keagamaan tersebut dijalankan dan apa motif yang melatarbelakanginya. Perhatian khusus diberikan pada pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan konten keagamaan sekaligus sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam aktivitas keagamaan dan pemanfaatan media digital pada Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara Blitar. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian berupaya mengungkap motif, praktik, strategi, dan makna yang terdapat di balik aktivitas keagamaan serta penggunaan media sosial.

Data penelitian diperoleh melalui pengamatan terhadap aktivitas dan konten yang berkaitan dengan Gus Samsudin dan lembaga yang dikelolanya, serta melalui penelusuran terhadap berbagai informasi mengenai perkembangan Padepokan Nur Dzat Sejati hingga menjadi Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara.

Analisis dilakukan dengan melihat hubungan antara aktivitas keagamaan, penggunaan media digital, pembentukan popularitas, dan kepentingan ekonomi. Dengan demikian, media sosial tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengelolaan aktivitas dan citra lembaga.

Media Sosial sebagai Ruang Ekspresi Keagamaan

Media sosial pada saat ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan berbagai platform digital memungkinkan setiap individu maupun kelompok untuk memproduksi dan mendistribusikan informasi secara mandiri.

Dalam konteks keagamaan, media sosial memberikan kesempatan kepada tokoh agama, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat umum untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada khalayak yang lebih luas. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung secara tatap muka, tetapi juga melalui video, siaran langsung, foto, tulisan, dan berbagai bentuk konten digital.

Kondisi tersebut juga terlihat pada aktivitas Gus Samsudin. Konten yang berkaitan dengan pengobatan, spiritualitas, dan keagamaan diproduksi dan disebarluaskan melalui media sosial. Popularitas yang diperoleh melalui konten digital kemudian menjadi salah satu faktor yang memperluas jangkauan aktivitasnya kepada masyarakat.

Dengan demikian, media digital dapat dipahami sebagai ruang baru bagi berlangsungnya aktivitas keagamaan. Akan tetapi, ruang tersebut juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan ruang keagamaan konvensional karena keberhasilan suatu konten sering kali diukur melalui jumlah penonton, pengikut, komentar, interaksi, dan subscriber.

Pertautan antara Aktivitas Keagamaan dan Kepentingan Ekonomi

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya hubungan antara aktivitas keagamaan dengan kepentingan ekonomi melalui media digital. Media sosial memungkinkan suatu konten yang memiliki jumlah penonton dan pengikut tinggi untuk menghasilkan keuntungan material.

Dalam konteks Gus Samsudin, aktivitas spiritual dan keagamaan dikemas dalam bentuk konten digital yang kemudian didistribusikan melalui sejumlah kanal media sosial. Berdasarkan data yang menjadi rujukan penelitian, terdapat tiga kanal yang disebut sebagai sumber pendapatan melalui aktivitas media sosial, yaitu kanal @MBAH DEN (SARIDEN), @GUS SAMSUDIN FAMILY, dan @PONDOK PESANTREN NUSWANTORO (Mustolehudin, 2024).

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas keagamaan di ruang digital dapat memiliki dimensi yang kompleks. Aktivitas tersebut tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan popularitas, produksi konten, jumlah audiens, dan keuntungan ekonomi.

Kondisi ini menunjukkan terjadinya komersialisasi dalam ruang digital, ketika perhatian dan interaksi masyarakat terhadap suatu konten dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi. Dengan demikian, agama dan aktivitas spiritual dalam media digital dapat beririsan dengan logika industri media yang menempatkan perhatian audiens sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Pengelolaan Media Digital secara Profesional

Aktivitas media sosial Gus Samsudin tidak dilakukan secara individual. Dalam menjalankan berbagai kanal digital, terdapat tim official yang mendukung produksi dan pengelolaan konten. Keberadaan tim tersebut menunjukkan bahwa media digital telah menjadi bagian yang cukup penting dalam pengelolaan aktivitas dan popularitas.

Pembentukan tim dengan berbagai keahlian juga menunjukkan adanya pembagian peran dalam pengelolaan lembaga. Dalam perkembangan awal Padepokan Nur Dzat Sejati, misalnya, terdapat keterlibatan orang-orang dengan keahlian tertentu, termasuk dalam bidang teknologi informasi, hukum, dan keagamaan.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan aktivitas keagamaan di era digital membutuhkan berbagai sumber daya. Kemampuan memproduksi konten, mengelola media sosial, memahami aspek hukum, serta membangun legitimasi keagamaan menjadi bagian yang saling berhubungan.

Perubahan dari Padepokan menjadi Yayasan Pondok Pesantren

Perkembangan lembaga yang berkaitan dengan Gus Samsudin mengalami perubahan nama dan bentuk kelembagaan. Pada awalnya, aktivitas tersebut dikenal melalui Padepokan Nur Dzat Sejati. Dalam perkembangannya, setelah operasional padepokan diminta untuk ditutup karena dinilai tidak sesuai dengan fungsi yang seharusnya, lembaga tersebut kemudian menggunakan nama Yayasan Pondok Pesantren Salaf Nurus Syifa Nusantara.

Perubahan nama dan bentuk kelembagaan tersebut merupakan bagian penting dalam memahami perkembangan aktivitas Gus Samsudin. Lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai padepokan kemudian menggunakan identitas pesantren, yang secara sosial memiliki hubungan kuat dengan institusi pendidikan dan keagamaan di Indonesia.

Dalam perkembangannya, yayasan tersebut juga melibatkan sejumlah tokoh yang memiliki pengaruh di Kabupaten Blitar. Salah satu nama yang disebut dalam data penelitian adalah KH Syaikhudin Rohman, yang disebut pernah menjadi Ketua MUI Kabupaten Blitar melalui mekanisme pergantian antarwaktu serta berprofesi sebagai pengacara. Keterlibatan tokoh dengan latar belakang keagamaan dan hukum tersebut menunjukkan adanya upaya membangun struktur kelembagaan yang memiliki legitimasi sosial dan keagamaan.

Popularitas, Agama, dan Media Digital

Media digital memiliki karakteristik yang memungkinkan seseorang memperoleh popularitas dalam waktu relatif cepat. Popularitas tersebut kemudian dapat memperkuat posisi seseorang di ruang publik. Dalam kasus Gus Samsudin, popularitas dibangun melalui produksi dan distribusi konten yang berkaitan dengan spiritualitas, pengobatan, dan keagamaan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa media digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan, tetapi juga sebagai arena pembentukan identitas dan citra publik. Seorang tokoh dapat membangun citra tertentu melalui konten yang diproduksi secara terus-menerus.

Namun, popularitas digital juga menghadirkan persoalan. Ketika konten keagamaan diproduksi berdasarkan logika jumlah penonton dan keuntungan ekonomi, terdapat kemungkinan terjadinya perubahan orientasi aktivitas keagamaan. Pesan keagamaan dapat berhadapan dengan tuntutan untuk menghasilkan konten yang menarik perhatian publik.

Oleh karena itu, fenomena ini perlu dipahami secara kritis. Penggunaan media digital dalam aktivitas keagamaan pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Media digital justru dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai agama. Persoalan muncul ketika kepentingan ekonomi, popularitas, dan aktivitas keagamaan bercampur tanpa batas yang jelas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan pada Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara Blitar tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media digital. Media sosial menjadi sarana penting dalam menyebarkan konten spiritual, pengobatan, dan keagamaan sekaligus membangun popularitas Gus Samsudin di ruang publik.

Temuan penelitian juga menunjukkan adanya dimensi ekonomi dalam pemanfaatan media digital. Sejumlah kanal media sosial digunakan untuk memproduksi dan mendistribusikan konten yang kemudian menjadi sumber pendapatan. Dengan demikian, aktivitas keagamaan di ruang digital memiliki beberapa dimensi sekaligus, yaitu dimensi dakwah, ekspresi keagamaan, pembentukan identitas, popularitas, dan ekonomi.

Keberadaan tim official dalam pengelolaan media sosial menunjukkan bahwa aktivitas tersebut telah dikelola secara lebih terorganisasi. Sementara itu, perubahan dari Padepokan Nur Dzat Sejati menjadi Yayasan Pondok Pesantren Nurus Syifa Nusantara menunjukkan adanya dinamika kelembagaan dalam perjalanan aktivitas Gus Samsudin.

Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menjalankan, menyebarkan, dan mengonsumsi aktivitas keagamaan. Agama kini tidak hanya hadir di ruang fisik seperti masjid, pesantren, dan majelis keagamaan, tetapi juga hadir dalam ruang digital yang memiliki karakteristik tersendiri. Karena itu, fenomena keberagamaan di media sosial perlu terus dikaji, khususnya berkaitan dengan hubungan antara agama, popularitas, legitimasi, dan kepentingan ekonomi.

 

PERPUSTAKAAN BLA SEMARANG
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang merupakan perpustakaan khusus di bawah Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Memiliki koleksi berupa hasil penelitian dan pengembangan dalam bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, serta Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO).

Statistik Pengunjung Web
>Hari ini : >Pekan Terkahir : >Bulan Terkahir : >Seluruh :

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
  • Produk Internal
  • Ebook
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?