Tawa kecil sesekali pecah di sudut ruangan Perpustakaan Balai Litbang Agama Semarang, Kamis (16/7/2026). Namun, tak lama kemudian suasana kembali sunyi. Sekitar 40 peserta terdiri atas pegawai, mahasiswa, dan siswa tampak terpaku menatap layar. Mereka mengikuti program Ngaso (Ngasah Otak) dengan menyaksikan film pendek Mateng Wit, karya Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama.
Bukan sekadar hiburan, film berdurasi singkat itu membawa penonton menyelami pergulatan seorang remaja bernama Kamila. Siswi SMA ini meyakini bahwa cintanya kepada Fikri sudah cukup jadi bekal untuk menikah muda. Namun, keyakinan itu berhadapan dengan kegelisahan kedua orang tuanya, Pak Yusuf dan Bu Yusuf. Mereka memandang pernikahan sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta.
Salah satu adegan paling menyentuh hadir pada malam hari, ketika Kamila berbincang santai dengan ibunya menjelang tidur. Dengan polos, Kamila mengaku bahwa pemuda yang mengantarnya pulang adalah Fikri, sosok yang menurutnya baik dan rajin beribadah. Ia lalu bertanya apakah dahulu ayah dan ibunya juga pernah berpacaran.
Pertanyaan sederhana itu dijawab dengan tenang oleh Bu Yusuf.
"Pacaran kami dimulai setelah menikah. Dalam Islam dilarang pacaran," ujarnya, seraya mengingatkan putrinya pada pesan Al-Qur'an dalam Surah Al-Isra.
Pandangan yang sama kemudian ditegaskan Pak Yusuf. Menurutnya, Islam tidak melarang seseorang untuk jatuh cinta, tetapi mengajarkan agar cinta dijaga dalam jalan yang benar hingga tiba waktunya membangun rumah tangga.
Konflik mencapai puncaknya ketika Pak Yusuf mengajak Kamila dan Fikri duduk bersama. Ia tidak memarahi keduanya, melainkan mengajak mereka melihat makna pernikahan dari sudut pandang yang lebih dewasa. Baginya, rumah tangga bukan kisah romantis tanpa akhir, melainkan perjalanan yang dipenuhi ujian.
"Rumah tangga itu sekitar 30 persen kebahagiaan dan 70 persen tantangan. Yang menentukan apakah tantangan itu bisa diubah menjadi kebahagiaan adalah kedewasaan pasangan," tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan usia, mental, dan emosional sebelum memasuki jenjang pernikahan. Dalam dialog yang sederhana tetapi mengena, Pak Yusuf mengibaratkan pernikahan dini seperti ngimbu pelem enom (mematangkan mangga yang masih muda).
"Nikah muda itu ibarat ngimbu pelem enom. Hasilnya belum tentu manis, bahkan bisa jadi tidak akan pernah manis."
Perumpamaan tersebut semakin kuat ketika Pak Bogang menceritakan kisah nyata anaknya yang menikah pada usia 17 tahun. Pernikahan yang dijalani tanpa kesiapan menghadirkan berbagai persoalan yakni anak pertama lahir dengan gangguan kesehatan, tekanan ekonomi setelah kelahiran anak berikutnya, konflik rumah tangga berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga berakhir dengan perceraian.
Cerita itu membuat ruangan kembali hening. Tidak sedikit penonton yang tampak larut dalam renungan. Film Mateng Wit seolah mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak, memikirkan kembali makna sebuah pernikahan.
Alur cerita yang ringan, film Mateng Wit mengingatkan bahwa membangun keluarga sakinah tidak cukup berbekal rasa saling mencintai. Sebab, sebagaimana buah yang dipetik sebelum waktunya, sesuatu yang dipaksakan matang belum tentu menghasilkan manis yang diharapkan.